Terbuka Untuk Umum
“Miss febri kok mesti pake baju yang gelap2 si? Jarang deh liat miss pake baju cerah” protes murid saya, Riri, dibenarkan dengan murid2 lucu saya yang lain “iya, kalo gak item, biru tua, coklat, item lg”. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Pernah juga temen saya yang sama2 ngajar di tempat kursus bilang dengan sumringahnya ketika melihat saya memakai jilbab warna kuning dan kerudung warna krem “Wow, Febri pake baju cerah, tumben bgt yak.” Lagi2 saya hanya tersenyum mendengarnya sambil jwab “iyak, soalnya ne jilbab terakhir yang da dLemari, yg laennya kotor. Belum sempet nyuci, he2”.
Ha3, saya seneng sebenernya mendengar komen2 tersebut dari orang2 terdekat sya yg mgkn bs sya artikan kalo mereka perhatian dengan saya (ehm2)(ato mgkn sebenarnya mengkritik sya, he2). Entahlah, tapi memang saya dasarnya suka warna2 gelap. Jilbab2 dan kerudung saya jg dimonopoli oleh warna2 gelap. Item, coklat, abu2, biru dongker, hijau tua, item lagi,&merah maroon+item.Ada 2 jilbab yg warnanya agak mencolok yaitu kuning agak coklat&pink.. Tapi 2 jilbab tsb adalah jilbab alternative&jlan terakhir jika jilbab2 saya yg warna gelap sudah habis stok. Kalopun terpaksa pke jilbab warna cerah, sebisa mgkn saya kombinasi dg kerudung item biar gak nyolok2 bgt (kecuali pink, biasanya saya kombinasi jg dg krudung pink. Kebayang kan nyoloknya! Jadi tambah cantik, ha3..PD pool). Yah, mgkn alasan yang paling masuk akal yang saya ajukan tentang kenapa saya suka warna2 gelap, terutama hitam adalah karena dy warna netral, bisa di match-kan dg jilbab ato krudung warna pa ja&kalo kotor pun tdk akan terlalu terlihat (ha3, licik memang tapi harap maklum, mengingat tingkah polah saya yang agak2 hyperaktif). Mungkin selain itu karena warna gelap tidak akan terlalu menarik perhatian bagi orang2 yang melihat, beda dengan warna merah menyala, orange cerah, kuning terang, ijo muda, ungu, dll yg (mnurut saya) eye-catching bgt (dan kebetulan saya memang tidak suka dengan warna2 tadi).
Ketika saya ikut seminar pendidikan tentang anak, salah satu pembicara mengatakan kalo kita ingin tau emosi anak, apakah suasana hatinya sedang cerah ato sedang mendung (kayak cuaca aja), bisa melakukan tes yg sangat sederhana. Suruh saja si anak menggambar&lihatlah pilihan warnanya. Kalo warna2 pilihannya cerah, maka suasana hatinya sedang bagus. Namun sebaliknya, kalo warna2 pilhannya gelap2, maka suasana hatinya sedang tidak bagus. Glek, saya jadi berpikir apa teori itu masih juga berlaku untuk anak yg umurnya diatas 20thn seperti saya ya?? (anak dari ibu dan bapak maksudnya). Tidak! Pasti tidak! Karena dalam kasus saya, ini bukan masalah gambar menggambar, tapi baju membaju, jadi teori tersebut out of case. Karena buktinya saya tidak selalu lagi murung ketika memilih jilbab warna gelap untuk saya pakai. (ha3, saya terlalu lebai sekali menyamakan antara pemilihan warna dalam menggambar untuk anak2&kesukaan warna baju pada org dewasa).
Bagi saya, pemilihan warna baju tidaklah perlu diperdebatkan, tapi memang lebih baik memang kalo bagi seorang wanita warna baju yang dipilih sebaiknya tidak terlalu menarik perhatian. Namun yang perlu diperhatikan adalah pemilihan bajunya, karena pemakaian baju bagi muslimah ini terikat dengan hukum syara’dan tidak boleh as delicious as their udel (seenak udel mereka sendiri, he2). Tidak boleh bagi seorang muslimah keluar rumah hanya dengan memakai baju yang sederhana
(sederhana bentuknya, kayak tank top ma hot pants gitu lho) yang bebas memperlihatkan bagian2 tubuhnya yang termasuk aurat. Yang perlu kita ketahui, seorang muslimah diWAJIBkan untuk memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh mereka kecuali muka dan telapak tangan. Rambut, leher, paha, lengan, betis, ketiak (yacks), siku, dengkul, dan lainnya, yang kebanyakan masyarakat memandang normal untuk diperlihatkan harusnya tidak diperlihatkan. Namun yang perlu diingat, tidak asal tertutup aurat2 tadi, harusnya juga pakaian yang dipakai juga tidak ketat, yang memang secara mata menutupi bagaian2 tadi, tapi memperlihatkan bentuknya. (Kan banyak tuh kasus kerudung seksi yang dah transparan kerudungnya, diputer2 lagi dilehernya, dadanya gak ketutupan. Dan memang tertutup semua badannya dengan celana ketat ma baju ketat, tapi liku2 bentuk badannya tetap terlihat! Yah sama ajah bo’ong). Secara sederhana, syarat2 baju/pakaian seorang muslimah itu, tidak transparan, tidak membentuk tubuh, tidak menarik perhatian, tidak diberi parfum ketika kluar rumah, tidak untuk dipamerkan, tidak menyerupai laki2 bentuknya, dan kerudungnya menutupi dada.
Kesimpulannya?? Ok, jadi sebenarnya inti dari tulisan saya yang gak nyambung diatas, dari mulai warna baju, hubungan pemilihan warna dengan psikologi anak, dan akhirnya pemilihan baju adalah cuma satu yaitu sebenarnya pernyataan “Terbuka Untuk Umum” mutlak tidaklah berlaku bagi seorang cewek yang mengaku Allah sebagai tuhannya, Muhammad sebagai Rasulullah, Quran sebagai tuntunannya dan Islam sebagai agamanya. Sebenarnya, itulah pesan yang mau saya sampaikan dalam tulisan ini, he2..

