IQRA’

Siang itu, jam 1 siang, dalam ruangan berukuran sekitar 4×5 m (ne ngira2 ja soalnya waktu itu saya tidak bawa meteran), satu persatu berdatanganlah para peserta”standarisasi guru ngaji” yang di adakan oleh Nurul Falah. Kebanyakan pesertanya adalah ibu2 yang berusia 30 tahunan keatas (lagi2, saya hanya mengira2 karena saya tidak menanyai&melihat langsung KTP ibu2 tadi). Hanya beberapa butir peserta saja yang masih muda, 4 mungkin (termasuk saya yang juga muda &imut tentunya). Mayoritas adalah ibu2 yang sudah punya suami (ya iyalah, namanya ibu2). Yang saya amati dari fenomena alam yang langka ini(karena saya baru ikut sekali ini) adalah betapa semangat dan berapi2nya ibu2 tadi untuk memperdalam ilmu Al-Quran. Tidak ada rasa malu atau canggung untuk belajar meskipun umur tidak lagi semuda saya (ehm2) dan aktivitas di rumah pun tidak sedikit. Namun mereka masih mau dan sempat meluangkan waktu mereka untuk belajar. Bahkan ktika saya sempat bertanya2 kepada beberapa ibu tadi, rumah mereka jauh2 semua, bahkan ada yang luar kota. Kalo saya sih deket, Cuma 5 menit naek motor juga sampek. Meskipun demikian, tidak menyurutkan langkah2 ibu2 tadi untuk datang ke tempat ngaji tersebut.
Sungguh sangat mengesankan melihat semangat ibu2 tadi, melihat kobaran semangat yang merah menyala. Memang sih, belajar itu tidak mengenal usia karena ada pepatah yang berbunyi “never say too old to learn” dan dalam hadits pun disebutkan “mencari ilmu itu dari buaian sampai liang lahat” yang artinya dari kecil sampek tua juga kudu mencari ilmu, gak da yang namanya pensiun dari mencari ilmu. Namun yang menjadi concern saya (dengan fakta bahwa hanya 4 butir cewek yang masih muda yang mengikuti majelis ilmu ini) adalah melihat generasi muda sekarang yang jarang sekali tergerak hatinya untuk mempelajari dan memperdalam ilmu2 Islam. Disini saya berbicara tentang ilmu secara umum, bukan hanya belajar Al-Quran, bahasa arab, hadits, dll, namun juga mengkaji Islam sebagai sebuah metode kehidupan dan solusi dalam menghadapi setiap persoalan yang ada. Banyak dari generasi muda lebih memprioritaskan mempelajari&memperdalam ilmu2 diluar Islam yang hukumnya fardhlu kifayah, seperti bahasa inggris, matematika, science, dll. Namun mengesampingkan dan menomor sekiankan ilmu2 yang hukumnya fardhlu ‘ain, yaitu ilmu2 agama Islam tadi. Lebih disayangkan lagi, ketika kebanyakan(tadi banyak, sekarang kebanyakan) generasi muda yang mengesampingkan keduanya, ilmu yang fardhlu kifayah&(apalagi) ilmu yang fardhlu ain. Concern mereka bukan lagi kepada bagaimana wajibnya menuntut ilmu, namun wajibnya menjaga penampilan biar kliatan tetap cool, calm and confident (kayak iklan rokok) didepan manusia yang lain, bukan di mata tuhan mereka. Bagaimana terlihat tetap keren (saya yang keren ja biasa aja) di depan orang2 yang melihatnya. Akhirnya, mereka pun tersibukkan untuk memake over penampilan mereka dan membeli perlengkapan dan pernak-pernik untuk tujuan mereka tadi. Yah, the capitalism-secularism effect kali yah.. hasil dari didikan dan cetakan system saat ini. No wonder, system aja bobrok, hasil kluarannya juga pasti gak jaoh2 dari cetakannya..
Hanya berharap dan berdoa, semoga saya, kalian yang baca, dan generasi muda islam lainnya akan tetap bersemangat ’45 untuk tetap mencintai, mencari, dan mengamalkan ilmu, terlebih yang wajib ain hukumnya untuk dipelajari, meskipun disaat usia kita tidak lagi muda dan tubuh pun mungkin akan berkurang tenaganya. Amiin

Advertisement

~ by makeurmove on May 7, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.