Homeworks

Homeworks

Entah kenapa saya malas sekali mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mencuci, menyapu, mengepel, bersih-bersih rumah dan terlebih lagi menyetrika (I do hate this job! Panas, trus kadang gak licin2 lagi yang disetrika). Wah, bener2 gak enjoy deh..(Calon suamiQ, maafkan aku, he2). Tapi kalo memasak saya lumayan enjoy dan totalitas dalam mengerjakannya (ini pun terjadi baru2 ini, sebelumnya saya juga tidak terlalu suka memasak, ha3). Tapi untuk hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya, phiiuuhh butuh kerja keras untuk menumbuhkan semangat dalam mengerjakannya. Mungkin saya berbeda dari kebanyakan kaum hawa yang seperti punya naluri untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Entah, mungkin ini kesalahan dari pembiasaan sejak saya kecil (atau karena memang saya yang malas y? he2). Karena kalo di rumah, ada pembagian tugas dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Kakak perempuan saya, kakak laki-laki saya, dan saya. Kita bertiga membagi tugas dalam pekerjaan rumah, dan saya tentu akan memilih pekerjakan paling ringan, yaitu mengelap perabotan, ha3. Mungkin dari situ saya agak kurang respek dengan pekerjaan rumah, karena kebanyakan kakak2 saya lah yang lebih aktif dari saya.

Dan sekarang pun, kebiasaan itu masih mengikuti saya. Tapi saya bersyukur, ketika sekarang saya hidup berkelompok satu asrama dengan sodari2 saya yang saya cintai dalam 1 rumah. Dimana saya yang anak jalanan dan sok sibuk ini bisa sedikit lega, ketika harus menjalankan piket harian atau tugas bersih2, karena ada ade2/mbak2 yang bisa meringankan beban saya. Kadang kala jika saya lupa tugas membuang sampah, saya diingatkan oleh mereka. Dan kalo tidak bisa hari ini, bisa minta tuker hari piket. Dan terlebih kamar saya yang sering jadi korban saya, sering sekali acak2an tampilannya. Tapi untungnya, ada ade2 yang mengingatkan&kadang2 juga merapikan, he2. Pokoknya sangat terbantu sekali lah, karena saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada yang mengingatkan saya, mungkin asrama akan terlihat kotor&dekil, hi3. Sangat menyenangkan for being here, karena bagi saya ini juga merupakan bagian dari pembelajaran&pembiasaan.

Yang saya tidak bisa membayangkan nanti apabila nanti saya bekeluarga, bagaimana keadaan rumah saya. Tidak mungkin ada jadwal piket untuk mengerjakannya, karena hanya saya&suamilah nanti yang akan ada di rumah. Maka jelas sudah bahwa saya lah yang harus mengerjakannya, karena suami berkewajiban bekerja di luar rumah(ya suami mungkin hanya bantu2). Sebenarnya, saya sempat berpikir kalo nanti saya bekeluarga saya akan menjadikan seseorang sebagai assistant keluarga saya (dengan nama lain pembantu) he2, tapi kemudian saya jadi berpikir, bukankah tugas seorang istri mengurus rumah tangga, jadi kalo umpama tugas itu diserahkan kepada orang lain sepertinya taste sebagai istri kok kurang ya.. Ya memang tidak ada salahnya jika nanti saya mempekerjakan seorang assistant rumah tangga, tapi alangkah lebih baiknya jika saya mengerjakannya sendiri kelak, karena saya yakin saya masih mampu untuk melakukan itu. Yah, semoga itulah yang nanti akan saya lakukan jika kelak menjadi seorang istri. (kok bahasannya jadi rumah tangga ya?)

Ya wes pokoknya gitulah.. dan ketika saya menulis tulisan ini saya juga masih belum jatuh cinta kepada pekerjaan rumah tangga. Entah kenapa. Tapi saya berjanji akan belajar mencintainya dengan mengingat bahwa pekerjaan rumah tangga ini adalah kewajiban (apalagi pas waktunya piket, he2) yang memang harus dilakukan. Semoga nanti saya tidak berpikiran seperti para feminist yang mementingkan karir daripada memilih mengurusi rumah tangga ketika sudah menikah, karena mereka mengira mengurus rumah tangga itu gampang&sederhana (iya, mereka hanya mengira2, karena mereka tidak merasakannya sendiri. Sebenarnya saya juga belum se, he2). Ato bahkan berpikiran lebih extrim lagi seperti para feminist radikal yang beranggapan bahwa institusi rumah tangga adalah bentuk lain dari sebuah perbudakkan&penjajahan terhadap wanita, yang artinya jangan menikah&berumah tangga (saya ingin nikah&berumah tangga!kan sunnah Rasul tuh). Dan semoga juga nantinya, saya tidak akan terlarut dalam pekerjaan (pekerjaan beneran neh, yang nyari duit tu lho), serta masih mengingat kewajiban&tugas utama saya.. InsyaAllah..

“De Febri, ayo itu piring2 nya dicuci”
Oooppss, suara mbak2 ngingetin tanggungan cucian bekas masak kemaren..Huufffttt..

“iya mbak, I’m comiiiiinnggg…”

Advertisement

~ by makeurmove on April 30, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.